You can replace this text by going to "Layout" and then "Edit HTML" section. A welcome message will look lovely here.
RSS

Sabtu, 02 April 2016

opini Diva Nazera

Mau di Bawa Kemana Negara Kita?
            Tak banyak pemimpin seperti Bung Hatta mempin tanpa menguras harta negara, pemimpin yang bener-benar berjuang utuk rakyat, pemimpun yang menjadi tauladan rakyat dan tiak mengharapkan imbalan apapun dari rakyat. Tetapi kini lihatlah pemimpin-pemimpin kita, pejabat-pejabat negara kita, dengan seribu kata manisnnya, boro-boro mengabdi untuk negeri, malah memperkaya kerabat sendiri, penghasilan para pejabat semkin tinggi, tetapi kasus korupsi tidak pernah mati (Najwa Sihab). Masuk akal kah keadaan seperti ini? Dari mana merka mendapatkan pengahasilan segitu banyak, tetpi lihatlah fasilitas dan apa yang telah menjadi hak rakyat masih belum sutuhnnya terpenuhi. Dan ketika mereka tertangkap karena kasus korupsi, mereka masih bisa tersenyum seakan tidak punya malu atas apa yang mereka perbuat, sibuk membela diri dan mendeklarasikan bahwa dirinnya sedang didzolimi oleh orang-orang yang tidak menghendaki dirinnya. Dengan keadaan seperti itu masikah rakyat bisa berharap kepada pemimpin sekarang??
            Kemudian hal-hal seperti itu menjadi sebuah hal yang wajar, pada ahirnnya merubah mind set masyarakat menjadi politik itu kotor, padahal politik adalah sarana atau usaha untuk memperoleh kekuatan dan dukungan dari masyarakat dalam melakukan kehidupan bersama. Ini akan berpengaruh pada ketahanan negara kita. Karena pengetahuan masyarakat tentang negara ini menjadi negatif, karena perilaku para pejabat yang demikian, pada ahirnnya negara kita akan mudah untuk dihancurkan. Masyarakat sekarang bisa apa, mereka mengalami kegalauan yang sangat berat, disisi lai masyarakat masih memiliki sejuta harapan untuk Indonesia menjadi lebih baik, tetetapi yang di harapkan tidak kunjung memberikan realisasinya kepana bangsa ini.
            Masyarakat ini tak berdaya mereka hanya anak yang mengharapkan perhatian dari orang tuannya, entahlah siapa yang salah dalam permasalahan negeri ini, masyarakat juga butuh makan untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka tau kekayaan negara ini begitu melimpah ruah, mereka tau bahwa kualitas generasi bangsa ini tidak kalah dengan merka yang disana, mereka mampu menciptakan sesuatu yang tidak bisa orang lain ciptakan, mereka berharap mereka mampu merubah indonesia menjadi lebih baik. Tetepa mengapa sang ayah tidak menghargai jerih payah mereka dan mengangkat karya mereka. Tidak salah jika mereka memilih untuk berpaling kepada orang yang mau menghargai karyanya sehingga mereka memperkayakan orang lain bukanuntuh bangsannya sendiri. Kenapa ayah tidak peduli dengan kami, kenapa ayah hanya memikirkan bagaimana kerabat ayah bisa bersenang-senang, dan ayah sibuk mempertahankan mahkota yang sebenarnnya itu adalah pemberian dari kita.
            Ayah menginginkan masyarakat mendapatkan pendidikan dengan mengedepankan pendidikan karakter, menegakkan rasa nasionalisme dan patriotisme agar generasi kita bisa menjadi generasi yang baik dan kedepannya bisa membawa Indonesia yang lebih baik. Tetapi mengapa pendidikan yang kita terima masih seperti ini? Fasilitas pendidikan masih sangat kurang, kurikulum yang diberikan malah semakin membingungkan, sedangkan yang memiliki fasilitas dan proses pembelajaran  yang biak hargannya sangat mahal , hanya para golongan yang beruanglah yang mampu mendapatkan pendidikan semacam itu, lalu rakyat kecil  bisa apa? Hanya bisa berpangku dagu kemudia menerima dan menyerap semua hal-hal yang masuk pada diri meraka tanpa adannya filter dalam diri mereka. Ancaman ideologi baru semakin mudah teresapi oleh kita apa lagi rakyat kecil seperi meraka, belum lagi pengaruh globalisasi dan modernisasi , yang semakin merubah kehidupan kita, kita tidak punya benteng yang cukup kuat untuk menghindari serangan itu semua, wajar saja apa bila bangsa ini semakin rusak dan tidak karuan.
            Dan lagi alam yang kita miliki , yang seharusnnya kita nikmati bersama, pada kenyataannya tidak dapat kita nikmati seutuhnnya. Padahal kekayaan indonesia mewakili 80% kekayaan dunia. Kita kaya tetapi kita tidak mampu untuk mngolah dan memanfaatkan semua itu, kita kaya tapi kita tidak bis menentukan kebijakan atas hasil kekayaan itu. Padahal kita anak daerah masih ingin mempertahankan semua itu, tapi apa daya , pengambil keputusan bukanlah anak daerah, tetapi pemimpin kita. Lalu kita hanya bisa pasrah,usaha untuk didengar sudah dilalui, tetapi tak pernah didengarkan. Mereka sibuk mengirimkan pesan papa minta saham dan semacamnnya, tanpa mereka tau anak-anaknnya sedang kelaparan.
            Nah lalu bagaimana nasib Indonesia sekarang? Mau dibawa kemana? Karena kondisi seperti itu , wawasan nasional yang awalnnya positif, saling percaya atas apa yang kita miliki dengan apa yang kita kerjakan merupakan satu keterkaitan yang seimbang, menjadi ketidak percayaan, karena kekecewaan yang mana apa yang kita miliki dan apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan dan harapan kita. Bagaimana kita membentuk kekuatan nasional, jika seperti ini. Kekuatan nasional yang dulu yang telah kita ciptakan utuk mencapai kemerdekaan dan membentuk negara ini atas dasar kesatuan sejarah, kesatuan nasib, kesatuan kebudayaan , kesatuan wilayah. Lalu mungkinkah dimasa depan akan tercipata kekuatan yang seperti itu? Karena dimasa sekarang, keadaan indonesia terdiri dari dua golongan, yaitu golangan pejabat dan masyarakat . mereka yang bersenang-senang akan menceritakan kepada generasinnya dan membuat sejarah yang indah, mengapa bisa disebut demikian, mereka seperti masyarakat hedonis , kesenangan adalah tujuan meraka, ketika mereka ditangkap msebagai pelaku korupsi, merka dengan tersenyum lebar mengatakan saya sedang di dzolimi. Kemudia yang satunnya lagi akan membuat sejarah bagaimana mereka menderita di dalam negerinnya sendiri. Kemudian kesatuan nasib, benarkah sekarang nasib kita sama? Tidak, yang kaya semakin memperkaya dirinnya, dan yang miskin tidak bisa apa-apa, dan sebagainnya. Kita sudah kehilangan kesatuan-kesatuan itu untuk membuat kekuatan, kita taidak akan memiliki geostrategi untuk menggiring kita menuju apa yang kita cita-citakan.

            Saatnnya kita untuk membuat perubahan, orang-orang yang sadar akan kondisi seperti ini , dengan melakukan hal-hal positif meskipun sebuah tindakan yang kecil, setidaknnya itu akan menyelamatkan kita, meskipun itu tidak mampu membuat sebuah letusan perubahan yang besar . yang sudah baik, mari kita pertahankan, dan lebihh-lebih kita bisa memperkuat itu. Pembentukan dan perbaikan karakter untuk segala usia, tidak hanya dibentuk sejak dini, tetapi harus juga ada perbaikan karakter untuk orang-orang yang sudah ber usia. Tingkatkan rasa ingin tahu, pengetahun dapat didapatkan dari mana saja. Setelah kita mendapatkan apa yang kita pelajari, tanamkan niatan baik dan tanamkan nilai-nilai luhur pancasila untuk kita jadikan sebuah output yang bermanfaat.  Kemudian dekati masyarakat yang ksedang krisis itu, meskipun kita sedikit sulit menanamkan kembali ideologi pancasila dengan cara kenegaraan, kita masih bisa menanamkannya dengan cara kewarganegaraan. Dengan tetap melaksanakan tertib aturan, memberiakan pengertian satu sama lain, toleransi dan sebagainnya. Kita tidak membicarakan untung rugi, tetapi bagaimana kita semua bisa menciptakan kesejahteraan bersama, yang pada ahirnnya akan kita rasakan bersama . Orang-orang yang hatinnya bersih tidak akan takut untuk menjadi yang tersisih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar