Mau di Bawa Kemana Negara Kita?
Tak
banyak pemimpin seperti Bung Hatta mempin tanpa menguras harta negara, pemimpin
yang bener-benar berjuang utuk rakyat, pemimpun yang menjadi tauladan rakyat
dan tiak mengharapkan imbalan apapun dari rakyat. Tetapi kini lihatlah
pemimpin-pemimpin kita, pejabat-pejabat negara kita, dengan seribu kata
manisnnya, boro-boro mengabdi untuk negeri, malah memperkaya kerabat sendiri,
penghasilan para pejabat semkin tinggi, tetapi kasus korupsi tidak pernah mati (Najwa Sihab).
Masuk akal kah keadaan seperti ini? Dari mana merka mendapatkan pengahasilan
segitu banyak, tetpi lihatlah fasilitas dan apa yang telah menjadi hak rakyat
masih belum sutuhnnya terpenuhi. Dan ketika mereka tertangkap karena kasus
korupsi, mereka masih bisa tersenyum seakan tidak punya malu atas apa yang mereka
perbuat, sibuk membela diri dan mendeklarasikan bahwa dirinnya sedang didzolimi
oleh orang-orang yang tidak menghendaki dirinnya. Dengan keadaan seperti itu
masikah rakyat bisa berharap kepada pemimpin sekarang??
Kemudian
hal-hal seperti itu menjadi sebuah hal yang wajar, pada ahirnnya merubah mind
set masyarakat menjadi politik itu kotor, padahal politik adalah sarana atau
usaha untuk memperoleh kekuatan dan dukungan dari masyarakat dalam melakukan
kehidupan bersama. Ini akan berpengaruh pada ketahanan negara kita. Karena
pengetahuan masyarakat tentang negara ini menjadi negatif, karena perilaku para
pejabat yang demikian, pada ahirnnya negara kita akan mudah untuk dihancurkan.
Masyarakat sekarang bisa apa, mereka mengalami kegalauan yang sangat berat,
disisi lai masyarakat masih memiliki sejuta harapan untuk Indonesia menjadi
lebih baik, tetetapi yang di harapkan tidak kunjung memberikan realisasinya
kepana bangsa ini.
Masyarakat
ini tak berdaya mereka hanya anak yang mengharapkan perhatian dari orang
tuannya, entahlah siapa yang salah dalam permasalahan negeri ini, masyarakat
juga butuh makan untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka tau kekayaan negara
ini begitu melimpah ruah, mereka tau bahwa kualitas generasi bangsa ini tidak
kalah dengan merka yang disana, mereka mampu menciptakan sesuatu yang tidak
bisa orang lain ciptakan, mereka berharap mereka mampu merubah indonesia
menjadi lebih baik. Tetepa mengapa sang ayah tidak menghargai jerih payah
mereka dan mengangkat karya mereka. Tidak salah jika mereka memilih untuk
berpaling kepada orang yang mau menghargai karyanya sehingga mereka
memperkayakan orang lain bukanuntuh bangsannya sendiri. Kenapa ayah tidak
peduli dengan kami, kenapa ayah hanya memikirkan bagaimana kerabat ayah bisa
bersenang-senang, dan ayah sibuk mempertahankan mahkota yang sebenarnnya itu
adalah pemberian dari kita.
Ayah
menginginkan masyarakat mendapatkan pendidikan dengan mengedepankan pendidikan
karakter, menegakkan rasa nasionalisme dan patriotisme agar generasi kita bisa
menjadi generasi yang baik dan kedepannya bisa membawa Indonesia yang lebih
baik. Tetapi mengapa pendidikan yang kita terima masih seperti ini? Fasilitas
pendidikan masih sangat kurang, kurikulum yang diberikan malah semakin
membingungkan, sedangkan yang memiliki fasilitas dan proses pembelajaran yang biak hargannya sangat mahal , hanya para
golongan yang beruanglah yang mampu mendapatkan pendidikan semacam itu, lalu
rakyat kecil bisa apa? Hanya bisa berpangku
dagu kemudia menerima dan menyerap semua hal-hal yang masuk pada diri meraka
tanpa adannya filter dalam diri mereka. Ancaman ideologi baru semakin mudah
teresapi oleh kita apa lagi rakyat kecil seperi meraka, belum lagi pengaruh
globalisasi dan modernisasi , yang semakin merubah kehidupan kita, kita tidak
punya benteng yang cukup kuat untuk menghindari serangan itu semua, wajar saja
apa bila bangsa ini semakin rusak dan tidak karuan.
Dan
lagi alam yang kita miliki , yang seharusnnya kita nikmati bersama, pada
kenyataannya tidak dapat kita nikmati seutuhnnya. Padahal kekayaan indonesia
mewakili 80% kekayaan dunia. Kita kaya tetapi kita tidak mampu untuk mngolah
dan memanfaatkan semua itu, kita kaya tapi kita tidak bis menentukan kebijakan
atas hasil kekayaan itu. Padahal kita anak daerah masih ingin mempertahankan
semua itu, tapi apa daya , pengambil keputusan bukanlah anak daerah, tetapi
pemimpin kita. Lalu kita hanya bisa pasrah,usaha untuk didengar sudah dilalui,
tetapi tak pernah didengarkan. Mereka sibuk mengirimkan pesan papa minta saham
dan semacamnnya, tanpa mereka tau anak-anaknnya sedang kelaparan.
Nah
lalu bagaimana nasib Indonesia sekarang? Mau dibawa kemana? Karena kondisi
seperti itu , wawasan nasional yang awalnnya positif, saling percaya atas apa
yang kita miliki dengan apa yang kita kerjakan merupakan satu keterkaitan yang
seimbang, menjadi ketidak percayaan, karena kekecewaan yang mana apa yang kita
miliki dan apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan dan harapan
kita. Bagaimana kita membentuk kekuatan nasional, jika seperti ini. Kekuatan
nasional yang dulu yang telah kita ciptakan utuk mencapai kemerdekaan dan
membentuk negara ini atas dasar kesatuan sejarah, kesatuan nasib, kesatuan
kebudayaan , kesatuan wilayah. Lalu mungkinkah dimasa depan akan tercipata
kekuatan yang seperti itu? Karena dimasa sekarang, keadaan indonesia terdiri
dari dua golongan, yaitu golangan pejabat dan masyarakat . mereka yang
bersenang-senang akan menceritakan kepada generasinnya dan membuat sejarah yang
indah, mengapa bisa disebut demikian, mereka seperti masyarakat hedonis ,
kesenangan adalah tujuan meraka, ketika mereka ditangkap msebagai pelaku
korupsi, merka dengan tersenyum lebar mengatakan saya sedang di dzolimi.
Kemudia yang satunnya lagi akan membuat sejarah bagaimana mereka menderita di
dalam negerinnya sendiri. Kemudian kesatuan nasib, benarkah sekarang nasib kita
sama? Tidak, yang kaya semakin memperkaya dirinnya, dan yang miskin tidak bisa
apa-apa, dan sebagainnya. Kita sudah kehilangan kesatuan-kesatuan itu untuk
membuat kekuatan, kita taidak akan memiliki geostrategi untuk menggiring kita
menuju apa yang kita cita-citakan.
Saatnnya
kita untuk membuat perubahan, orang-orang yang sadar akan kondisi seperti ini ,
dengan melakukan hal-hal positif meskipun sebuah tindakan yang kecil,
setidaknnya itu akan menyelamatkan kita, meskipun itu tidak mampu membuat
sebuah letusan perubahan yang besar . yang sudah baik, mari kita pertahankan,
dan lebihh-lebih kita bisa memperkuat itu. Pembentukan dan perbaikan karakter
untuk segala usia, tidak hanya dibentuk sejak dini, tetapi harus juga ada
perbaikan karakter untuk orang-orang yang sudah ber usia. Tingkatkan rasa ingin
tahu, pengetahun dapat didapatkan dari mana saja. Setelah kita mendapatkan apa
yang kita pelajari, tanamkan niatan baik dan tanamkan nilai-nilai luhur
pancasila untuk kita jadikan sebuah output yang bermanfaat. Kemudian dekati masyarakat yang ksedang
krisis itu, meskipun kita sedikit sulit menanamkan kembali ideologi pancasila
dengan cara kenegaraan, kita masih bisa menanamkannya dengan cara
kewarganegaraan. Dengan tetap melaksanakan tertib aturan, memberiakan
pengertian satu sama lain, toleransi dan sebagainnya. Kita tidak membicarakan
untung rugi, tetapi bagaimana kita semua bisa menciptakan kesejahteraan
bersama, yang pada ahirnnya akan kita rasakan bersama . Orang-orang yang
hatinnya bersih tidak akan takut untuk menjadi yang tersisih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar